Hatta Rajasa
KENAIKAN harga eceran BBM subsidi kemungkinan bakal terjadi Juli
nanti. Prediksi ini mengacu pada pasal 7 ayat 6a APBN-Perubahan 2012
yang menyebutkan, jika angka rata-rata kenaikan 15 persen harga minyak
Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) selama enam bulan berturut-turut,
pemerintah memiliki ruang menaikkan BBM. Nah, di Juli 2012, syarat itu
bakal terpenuhi.
Menurut Menko Perekonomian Hatta Rajasa, pemerintah telah mulai
melakukan simulasi atau uji coba skema kenaikan BBM subsidi di bulan
Juli nanti. "Kami melakukan exercise, asumsi kalau nanti naik di bulan
Juli. Kalau memenuhi pasal 7 ayat 6a seperti apa. Kalau tidak memenuhi
seperti apa," tuturnya di Jakarta kemarin (19/4).
Saat ini harga rata-rata minyak mentah Indonesia bulan Maret 2012
berdasarkan perhitungan Formula ICP mencapai USD128,14 per barel, naik
USD5,97 per barel dari USD122,17 per barel pada bulan Februari 2012.
Sementara asumsi dalam APBNP 2012 dipatok USD105 per barel.
Kendati demikian, menurut Hatta, apa yang dilakukan pemerintah tersebut
baru sampai pada tahap uji coba jika hanga minyak mentah Indonesia telah
menyentuh di atas asumsi APBNP. Pembahasan perlu dilakukan secara
mendalam karena APBNP 2012 di susun berdasarkan asumsi harga BBM
mengalami kenaikan sebesar Rp1.500 per liter.
"Tetapi pelaksanaannya tidak menaikkan BBM sehingga ada miss match,"
ujar Hatta. Untuk mengatasi itu, segala kemungkinan akan dilakukan untuk
menjaga supaya APBN tidak jebol atau mengalami kesulitan besar.
Pemerintah terus mengupayakan berbagai hal untuk menjaga supaya defisit
APBN tidak melebihi 3 persen.
Dia menyebut pembatasan atau pengendalian bensin subdidi sebagai salah
satu alternatif agar pemakaian BBM tidak melebihi jatah kuota 40 juta
kiloliter per tahun. "Kalaupun melebihi dalam kategori bisa diatasi
dengan baik," ucap dia.
Dari program program penghematan dan pengendalian BBM itu, menurut Ketua
Umum DPP PAN ini, berpotensi menghemat penggunaan BBM bersubsidi
berkisar 2- 3 juta kiloliter. Asumsi itu jika kendaraan bermotor
berkapasitas mesin di atas 1.500 cc dan kendaraan dinas berhenti minum
BBM subsidi. Akan tetapi, potensi penghematan itu bisa saja meleset
lantaran beberapa hal, yakni pemilik kendaraan 1.500 cc mengaku hanya
memiliki kendaraan 1.300 cc.
Hatta menyebutkan, konsumsi BBM subsidi mengalami kelebihan sebanyak 8
persen per hari. "Kalau dibiarkan kelebihanya itu 8 hingga 10 persen
dari 40 juta kiloliter, itu bisa menjadi 43 sampai 44 juta kilo liter,"
ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah harus siap dengan dua kondisi, yaitu kondisi
yang memungkinkan penyesuaian harga BBM dan kondisi yang tidak
memungkinkan melakukan penyesuaian harga BBM. Upaya pengendalian BBM
adalah salah satu opsi yang didalami pemerintah untuk kedua kondisi itu.
Sebelumnya, Menteri ESDM Jero Wacik menyatakan, kebijakan pengendalian
bertujuan untuk menjaga supaya kuota BBM bersubsidi tidak membengkak.
Selain itu, pengendalian bertujuan agar bensin subsidi hanya dinikmati
oleh rakyat yang kurang mampu.
Menurut Jero, selama ini BBM bersubsidi dinikmati orang-orang kaya.
"Sekarang, dari penelitian kami, 77 persen subsidi itu jatuh kepada
kelompok yang sebetulnya orang kaya," ujarnya. Hanya saja, lanjut Jero,
sampai saat ini pemeritah belum memutuskan hal-hal teknis mengenai hal
itu.
Kepala Ekonom Standar Chartered Fauzi Ichsan mengatakan, kalau misalnya
hharga ICP 15 persen rerata di atas asumsi APBNP selama enam bulan
terakhir, pemerintah mempunyai lampu hijau menaikan BBM. "Menurut hemat
kami di bulan Juni atau Juli harga rata-rata akan tercapai," katanya.
Menurut dia, keputusan menaikan harga BBM saat ini bukanlah keputusan
ekonomi saja, melainkan menjadi keputusan politis pemerintah. "Sekarang
tinggal menunggu keberanian pemerintah saja.
Karena secara politis lebih sulit tetapi bagaimanapun juga pemerintah
memiliki wewenang hukum untuk menaikkan harga. Sekitar Juni atau Juli
dasar hukum kuat dan persyaratan tercapai. ICP rata-rata enam bulan
terakhir di atas USD121 per barel," paparnya