Wali Kota Bitung Hanny Sondakh resmikan pos kamling termahal. Pos kamling ini berbandrol biaya pembangunan senilai Rp 17 juta.
Hal
ini menunjukkan keseriusan warga Kelurahan Bitung Timur Kecamatan Maesa
terhadap keamanan, dan ketertiban lingkungan, serta mendukung program
mapalus kamtibmas patut mendapat apresiasi. Pasalnya keinginan mereka
tersebut dibarengi dengan membangun pos keamanan lingkungan (pos
kamling), dengan anggaran jutaan rupiah.
"Jumlah biaya yang
dikeluarkan untuk membanggun pos kamling tersebut senilai Rp 17 juta,"
kata Camat Maesa Sifri Mandak, Kamis (19/4/2012).
Menurut Mandak
biaya yang ditorehkan untuk membangun, dilakukan atas dasar kesepakatan
bersama dari berbagai pihak yang ada di Kelurahan Bitung Timur. "Kami
bersama dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala lingkungan, RT, dan
keluarga Hj Mudin Bukusu," tambahnya.
Dijelaskannya sebelum
memutuskan untuk membangun pos kamling dengan anggaran yang cukup besar,
kami melakukan pertemuan-pertemuan untuk memutuskan membangun pos
tersebut guna menunjang program mapalus kamtibmas. "Dari pertemuan
diperoleh masukan-masukan, dan kami melakukan monitoring dari awal
hingga selesainya pengerjaan pembangunan proyek tersebut," tuturnya.
Lanjutnya dalam menyelesaikan pengerjaan pos kamling tersebut pihaknya
bersama warga Kelurahan Bitung Timur mamakan waktu berbulan-bulan
lamanya. "Pengerjaannya dilakukan selama 4 bulan," kata dia.
Selain
itu kerinduan pihaknya membangun pos tersebut selain untuk mendukung
program mapalus kamtibmas, karena wilayah tersebut yang rawan kamtibmas.
"Karena berada di pusat kota Bitung dan berada dilokasi pelabuhan,"
tandasnya.
Terpisah Wali kota Bitung memberikan apresiasi kepada
pemerintah Kelurahan Bitung timur, dan Kecamatan Maesa yang membangun
pos kamling dengan anggaran jutaan rupiah. "Ini sangat bagus karena dari
Rp 17 juta lebih anggaran untuk membangun Pos keamanan lingkungan tanpa
satu rupiah anggaran dari pemko Bitung, melainkan swadaya masyarakat,"
tutur Hanny Sondakh usai meresmikan pos kamling tersebut.
Dalam
peresmian tersebut ikut hadir wakil walikota Bitung Max Lomban, Kapolres
Bitung AKBP Stake Bayu SIK, Danramil Kapten Inf Prayitno, sekretaris
kecamatan Ir Donald Manansal
Tampilkan postingan dengan label pelayanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelayanan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 April 2012
Rabu, 18 April 2012
Rumah Sakit Pancaran Kasih Lenyap
Kondisi Rumah Sakit Umum (RSU) Pancaran Kasih, yang beberapa
tahun silam dikenal ramai dan padat aktivitas baik para petugas medik
maupun keluarga pasien, kini tampaknya mulai berkurang dan bahkan
terlihat sunyi.
Memang, pasca didera oleh permasalahan gaji karyawan yang berbulan-bulan tak kunjung dibayar, rumah sakit yayasan milik Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) itu, mulai ditinggal karyawannya yang keberatan dengan karena haknya tak dipenuhi oleh manajemen rumah sakit, yang akhirnya berimbas pada beralihnya pilihan warga untuk tempat berobat dan dirawat.
Beberapa warga Kota Manado, yang diwawancarai Tribun Manado, mengaku dahulu mereka selalu menjadikan RSU Pancaran Kasih sebagai pilihan utama tempat berobat atau pun melakukan perawatan kesehatan. Alasannya pun beragam, ada yang mengaku karena posisinya yang strategis karena dekat pusat kota, ada pula yang beralasan bahwa RSU Pancaran Kasih adalah milik GMIM sehingga ketika mereka menggunakan fasilitas umum itu, dengan sendirinya turut membantu perkembangan yayasan GMIM.
Misalnya seperti yang diutarakan oleh Ferdinand. Warga Tanjung Batu itu mengaku ia dan anggota keluarganya sering berobat di RSU Pancaran Kasih, karena secara geografis letaknya tak jauh dari rumah mereka. "Torang biasa berobat di Pancaran Kasih, karena memang letaknya dekat, jadi kalau month ambe makanan atau air, nda susah karena dekat dengan rumah," ujarnya.
Menurut dia, sekitar empat tahun lalu, rumah sakit tersebut tergolong ramai dan padat pasiennya. Lorong-lorong antar ruangan perawatan biasanya dipadati keluarga pasien, bahkan ada yang hingga menggelar tikar di depan ruang perawatan. Selain itu ada pula pasien yang tak kebagian sal/tempat tidur, terpaksa harus menunggu di bangku yang ada di depan ruangan perawatan. "Kalau dulu, rame skali itu rumah sakit," tutur Ferdinand.
Senada dengan warga Tanjung Batu tersebut, Andre, seorang warga Sario mengaku memiliki kesan tersendiri, namun melihak kondisi terkini, ia merasa prihatin. Kata Andre, rumah sakit yang berada di ruas jalan Sam Ratulangi itu memiliki daya tarik bagi warga Kota Manado dan sekitarnya, selain karena posisinya yang strategis, rumah sakit tersebut juga adalah milik GMIM, sehingga banyak warga GMIM berobat di RSU Pancaran Kasih. "Kami memilih berobat di Pancaran Kasih karena rumah sakit itu milik GMIM, jadi skali turut menunjang pengembangannya," imbuhnya.
Kondisi rumah sakit tersebut memang belakangan mulai sunyi karena pasiennya berkurang. Seperti hasil pantauan Tribun Manado, Rabu (18/4/2012), tampak di gedung perawatan C hanya ada sekitar tiga orang pasien menghuni ruangan itu, begitu juga di gedung perawatan D hanya ada sekitar empat pasien. Kondisi lain juga tampak di ruang perawatan A yang hanya ada tumpukan meja, sal tempat tidur pasien.
Memang, pasca didera oleh permasalahan gaji karyawan yang berbulan-bulan tak kunjung dibayar, rumah sakit yayasan milik Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) itu, mulai ditinggal karyawannya yang keberatan dengan karena haknya tak dipenuhi oleh manajemen rumah sakit, yang akhirnya berimbas pada beralihnya pilihan warga untuk tempat berobat dan dirawat.
Beberapa warga Kota Manado, yang diwawancarai Tribun Manado, mengaku dahulu mereka selalu menjadikan RSU Pancaran Kasih sebagai pilihan utama tempat berobat atau pun melakukan perawatan kesehatan. Alasannya pun beragam, ada yang mengaku karena posisinya yang strategis karena dekat pusat kota, ada pula yang beralasan bahwa RSU Pancaran Kasih adalah milik GMIM sehingga ketika mereka menggunakan fasilitas umum itu, dengan sendirinya turut membantu perkembangan yayasan GMIM.
Misalnya seperti yang diutarakan oleh Ferdinand. Warga Tanjung Batu itu mengaku ia dan anggota keluarganya sering berobat di RSU Pancaran Kasih, karena secara geografis letaknya tak jauh dari rumah mereka. "Torang biasa berobat di Pancaran Kasih, karena memang letaknya dekat, jadi kalau month ambe makanan atau air, nda susah karena dekat dengan rumah," ujarnya.
Menurut dia, sekitar empat tahun lalu, rumah sakit tersebut tergolong ramai dan padat pasiennya. Lorong-lorong antar ruangan perawatan biasanya dipadati keluarga pasien, bahkan ada yang hingga menggelar tikar di depan ruang perawatan. Selain itu ada pula pasien yang tak kebagian sal/tempat tidur, terpaksa harus menunggu di bangku yang ada di depan ruangan perawatan. "Kalau dulu, rame skali itu rumah sakit," tutur Ferdinand.
Senada dengan warga Tanjung Batu tersebut, Andre, seorang warga Sario mengaku memiliki kesan tersendiri, namun melihak kondisi terkini, ia merasa prihatin. Kata Andre, rumah sakit yang berada di ruas jalan Sam Ratulangi itu memiliki daya tarik bagi warga Kota Manado dan sekitarnya, selain karena posisinya yang strategis, rumah sakit tersebut juga adalah milik GMIM, sehingga banyak warga GMIM berobat di RSU Pancaran Kasih. "Kami memilih berobat di Pancaran Kasih karena rumah sakit itu milik GMIM, jadi skali turut menunjang pengembangannya," imbuhnya.
Kondisi rumah sakit tersebut memang belakangan mulai sunyi karena pasiennya berkurang. Seperti hasil pantauan Tribun Manado, Rabu (18/4/2012), tampak di gedung perawatan C hanya ada sekitar tiga orang pasien menghuni ruangan itu, begitu juga di gedung perawatan D hanya ada sekitar empat pasien. Kondisi lain juga tampak di ruang perawatan A yang hanya ada tumpukan meja, sal tempat tidur pasien.
Langganan:
Postingan (Atom)